Insya-Allah”
Ketika kita menyangkut sesuatu yang akan datang
seorang Muslim dituntun untuk mengucapkan “Insya-allah”? Berikut penjelasan
Prof. Dr. M. Mutawalli Asy Sya’rawi:
Segala urusan yang menyangkut masa yang akan datang
-baik nanti, besok atau tahun depan, manusia tidak dapat memastikan kecuali kehendak
Allah.
Seperti
halnya Allah berfirman dalam Surat al-Kahfi ayat 23-24:
terjemahannya:
23. dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu:
"Sesungguhnya aku akan mengerjakan
ini besok pagi,
24. kecuali
(dengan menyebut): "Insya Allah"[879]. dan ingatlah kepada Tuhanmu
jika kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku
petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini".
[879]Menurut
riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w.
tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu
beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan. dan beliau
tidak mengucapkan insya Allah (artinya jika Allah menghendaki). tapi kiranya
sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut
dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai
pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut
insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.
Sesuatu yang menyangkut masa yang akan datang, mencakup lima
unsur yaitu :
1. Pelaku (subyek)
2. Sesuatu yang diperlakukan (Obyek)
3. Waktu dan tempat kejadian
4. Sebab musabab
5. Kekuatan dan kemampuan yang diperlukan untuk pelaksanaan
Jika kita
berkata, “Besok saya akan pergi ke tempat si Fulan untuk membicarakan masalah
tertentu”, kita itu tidak dapat memastikan apakah kita akan hidup sampai besok
(subyek). Pun dengan si Fulan yang akan ditemui, juga tidak dapat dipastikan
apakah ia akan hidup juga sampai besok (obyek).
Kalaupun
orang kita bisa pergi, mungkin waktunya tidak tepat, tempatnya berubah, atau ia
masih hidup tapi terkendala sakit atau apa. jelasnya, manusia tidak memiliki
kuasa menentukan lima unsur tersebut. hanyalah Allah SWT yang Maha Kuasa.
Kesimpulannya,
segala urusan itu kemudian dikembalikan kepada Allah SWT. Yang Mahakuasa. Maka seorang
muslim mengucapkan “Insya-Allah”, jika Allah menghendaki. Jika Allah tidak
menghendaki, maka rencana tersebut pasti gagal. Wallahu a’lam bish shawab.
Semoga
bermanfaat